Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Hatiku menegaskannya saat namanya diperbincangkan oleh cewek-cewek sekelasku, saat jam pelajaran kosong. Tentunya, kecuali aku yang tidak ikut dalam perbincangan cewek itu. Ketimbangan ngegosipin dirinya yang bagiku tidak penting, lebih baik aku mengisi LKS (lembaran kerja siswa) Sejarah, mata pelajaran yang lagi kosong.
Satya, begitulah namanya. Sekarang, nama itu selalu akrab di telingaku. Bukan karena aku memang mengenalnya, tapi karena selalu jadi perbincangan hampir seluruh cewek-cewek di SMA senandung pagi.
Dia sedang naik daun. Bisik hatiku saat memandang dirinya yang sedang akrab bersama beberapa cewek didepan pagar sekolah, saat pulang sekolah. Yeah, dia tidak saja menjadi pembicaraan hangat cewek-cewek, tapi dia juga bunga yang selalu dikerubunin kumbang.
Bagaimana tidak naik daun, kalau sekarang dia mampu memperlihatkan eksistensi dirinya sebagai bunga bagi cewek-cewek. Dia tidak hanya tampan, tidak hanya ramah, tidak hanya kaya, dan tidak hanya berprestasi. Tapi, dia satu-satunya cowok yang selalu mendapat hukuman dari guru.
Satya Darma Nungraha. Itu nama lengkapnya. Salah satu cowok tampan di SMA Senandung Pagi, selalu ramah dengan seluruh penghuni SMA Senandung Pagi—termasuk penjaga sekolah, jago Matematika, ketua kelas, anggota inti paduan suara, kapten Futsal, dan basist band ‘Senandung’—band sekolah yang selalu berprestasi dalam kegiatan pensi. Dan, wajar dengan prestasi seperti itu, membuat ia adalah salah satu idola bagi cewek-cewek SMA Senandung Pagi. Cemerlangnya prestasi Satya, benar-benar terlihat saat tiga bulan terakhir ini. Berawal dari keramahannya dengan seluruh penghuni SMA Senandung Pagi, membuatnya dekat dengan kakak kelas. Kedekatannya dengan kakak kelas, membuatnya diminta mengisi acara promnight, menyanyi dengan diiringi gitar akustik. Berawal dari itulah, ia direkrut guru Kesenian untuk masuk dalam paduan suara sekolah, Lalu diminta seorang teman sebagai vokalis band namun ujung-ujungnya ia memilih sebagai basist, dan dari teman bandnya itu ia sering bermain Futsal. Kesenangannya pada Futsal, membuatnya gabung pada tim Futsal sekolah. Selang sebulan, ia langsung ditunjuk sebagai Kapten. Kalau masalah jago Matematika, siapapun yang sekelas dengannya mengakui hal itu. Karena, tiap ulangan Matematika, ia selalu mendapat nilai sempurna.
Prestasi yang gemilang itupula yang membuatnya menyandang ketua kelas saat duduk dikelas XI, sebulan yang lalu. Namun, meski berprestasi, kejelekan sikapnya tetap menjadi perbincangan. Cuma sebagai perbincangan yang membuat anak-anak ‘takjub’ bukan benci.
Kejelekan sikapnya yaitu, dia selalu terlambat datang sekolah yang membuat hukuman menjadi makanan sehari-harinya. Saat jam pelajaran, ia sering kedapatan tidur di kelas dan UKS atau sekedar ngobrol dengan ibu’ kantin.
Aku sangat mengenalnya, bukan?
Aku mengenalnya, bukan dari pengamatanku. Tapi karena dulu aku pernah jadi sahabatnya. Aku menjalin persahabatan dengannya di awal masuk SMA Senandung Pagi, saat semester satu, dan saat ia belum menjadi orang terkenal.
Dan kini, aku tak mengerti, kenapa, antara aku dan dia seperti orang asing. Perlahan tapi pasti, persahabatan kami renggang tanpa sebab yang jelas, kecuali persoalan masalah waktu yang membuat kami jarang bersama. Saat semester dua, dia mulai memetik buah keramahannya. Ia sibuk bergaul dengan orang-orang diluar kelas, tanpa mempedulikan aku lagi. Hanya sesekali, aku dan dia menghabiskan waktu di sebuah coffe shop sembari browsing dengan laptop kami masing-masing tanpa banyak bicara satu sama lain.
Saat kami tak sekelas lagi, kelas XI, kita benar-benar seperti orang asing. Ia sibuk dengan dunia ketenarannya dan keeksistensinya sebagai bintang sekolah. Sedangkan aku, sibuk pada dunia kekuperanku yang mengenal sekolah, rumah, toko buku, dan coffe shop.
Aku pernah mencoba untuk tidak sebagai orang asing bagi dirinya. Tapi, sepertinya kekakuan diantara kami yang malah tercipta. Itu membuatku terasa tidak nyaman, dan bertekad untuk benar-benar menjadi asing. Asing untuk dirinya dan aku.
Masih ingat dibenakku saat aku mencoba untuk tetap menganggapnya sahabat, walau memang ada ketakutan menghantuiku saat itu, entahlah apa yang membuatku takut untuk melakukan hal itu, tapi pada akhirnya, ketakutanku memang terbukti.
Aku menyapanya lewat inbox Facebook, karena memang inilah alternatif yang baik untuk menyapanya. Soalnya, aku sangat jarang berpapasan dengannya, toh kalau berpapasan ia sibuk meladenin orang-orang disekelilingnya, tak menyadari ada aku yang berpapasan dengannya.
Hai, gimana kabarnya?
Ehm, kelihatan makin banyak pengemar niy. Wah, selamat iah..
Oia, sombong apa sibuk banget niy, ampe lupa ama gue?
Bdw, masih ingat kan ama gue, kan?
Hah. Pesan itu kutulis dengan ketakutan dan kebingungan merangkai kata. Pada akhirnya, aku memilih kalimat itu, dengan harapan dia mau membalas inbox ku. Sayang, sudah hampir dua minggu dia tak membalas inboxku. Padahal, aku sering melihat dia online. Untuk menyapa dia saat online, aku tak punya keberanian.
***
Aku suka hujan. Tapi tidak dengan deras dan petirnya. Aku suka hujan yang gerimis atau hujan yang sedang. Saat hujan, hal yang sangat suka kulakukan adalah memandang kaca-kaca ruangan yang terkena percikan hujan. Embun dan airnya benar-benar membuat pemandangan yang mengasyikkan bagiku. Terlebih kalau aku berada disamping kaca ruangan itu, disebuah coffe shop sembari ditemani kopi susu, kesukaanku.
Makanya, saat hujan mulai membasahi tanah, aku langsung melangkahkan kaki ke sebuah coffe shop, ketimbang pulang kerumah.
Coffe shop langgananku dan Satya. Aku terpaksa kesana, karena coffeshop itu terletak tak jauh dari toko buku yang kukunjungi tadi. Padahal coffe shop itu sudah lama tak pernah kujejaki, sejak aku dan Satya menjadi asing.
Hah, aku tiba-tiba tertunduk. Bayangan antara aku dan Satya tiba-tiba hadir. Terlebih pada hujan seperti ini.
“Gue suka hujan, tapi tidak dengan deras dan petirnya,” ujarku saat itu, saat hujan turun dengan derasnya. “Karena, kalau deras, dia menghasilkan petir. Lagipula, pantulan airnya yang mengenai kaca ini, akan menghasilkan bunyi yang cukup keras, “jelasku sembari memegang dinding kaca disampingku.
Satya tersenyum tipis. “Pekerjaan yang sia-sia bagi gue, kalau memandang hujan turun dibalik kaca sambil sesekali memegang kaca yang dibasahi air hujan.”
“Dia meninggalkan kristal-kristal bening.” Tegasku. “Dan satu lagi, gue suka bau’ tanah saat hujan turun.”
“Yang ada tanah becek,”
“Bukan yang itunya. Tanah yang kering ketika dibasahi hujan, baunya itu benar-benar memberi kesejukan. Jadi, tak ada debu yang bertebaran.”
“Lu memang benar-benar aneh, “desis Satya sambil menyeruput cappuccino dihadapannya. “Gue tak pernah tahu bau tanah disirami hujan. Yang kutahu, kalau hujan, becek.”
Aku memalingkan mukaku, tak peduli dengan omongan Satya. Aku lebih memilih, menikmati hujan diluar sana, lewat dinding kaca ruangan ini.
***
Hujan.
Aku tersenyum senang saat memandang rintik hujan yang turun, saat keluar dari kelas. Tak peduli dengan rutuan teman-teman yang ada disekelilingku yang menyesali hujan turun, aku malah menikmatinya dengan sukacita.
“Ngumpul dikantin yuk, sambil nunggu hujan reda.” ajak Siska teman sebangkuku.
Aku mengeleng kepala. Kupejamkan mataku sembari menghirup bau tanah halaman sekolah.
“Lihat,”
Suara gaduh di sekitarku, memaksaku membuka mata. Kuedarkan pandanganku kearah sumber yang membuat gaduh.
Satya?!
Aku kaget melihat Satya begitu santai berjalan menuju pagar sekolah, tanpa mempedulikan hujan yang membasahi seragamnya.
“Woi, Sat…stress, lu.” teriak seorang cowok yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri.
Satya tak peduli, ia malah memasuki Honda jazz yang berhenti didepan pagar sekolah.
“Parah tuh anak. Sejak putus sama Dela, stress.”
Dela?!
Kenapa aku tidak tahu, kalau Satya pacaran dengan Dela? Aku mengigit ujung bibirku, mungkinkah aku terlalu sibuk dengan kenangan antara diriku dan Satya, hingga aku mengabaikan pengetahuanku tentang kisah asmaranya.
Kulangkahkan kakiku begitu saja, melintasi hujan yang masih setia turun. Kuturuti, apa yang dilakukan Satya. bedanya, tak ada teriakan yang menghampiriku. Wajar mereka tak peduli apa yang kulakukan, karena memang tak penting untuk peduli’in hal sekecil ini dari seorang cupu seperti aku. Kecuali, kalau yang melakukannya, bintang sekolah.
Berjalan ditengah hujan, ternyata juga sangat mengasyikkan. Lebih dari memandangnya saja. Saat hujan menyatu dengan tubuh, membasahi seragam, saat itu aku merasakan nikmat yang luar biasa. Kuhela napas secara perlahan-lahan, ada kedinginan merasuki tubuh kurusku. Tapi sungguh, aku tak peduli dengan dingin ini, malah menikmatinya. Sepertinya, beban benar-benar lepas saat badan ini menyatu dengan air hujan. Lega dan terasa bebas.
***
Malam ini, aku janjian dengan Siska di coffe shop langgananku guna membicarakan topik yang bagus untuk tugas makalah Sosiologi.
Hampir setengah jam, aku menunggu Siska sembari menikmati kopi susu kesukaanku.
“Sorry telat, macet soalnya.”
“Basi.” Selorohku sambil tersenyum tipis. “Ayo, udah ketemu topik yang cocok untuk tugas kita?”
“Jiah, langsung ke topik. “dengus Siska. “ Gue pesen minum dulu,”
“Ya, udah pesen aja.”
Sepeninggalan Siska, kuhela napas secara perlahan-lahan, sembari memandang keluar jendela. Berharap, hujan tiba-tiba muncul. Sayang, langit tampak cerah dengan cahaya bulan.
Deg.
Aku tertunduk, saat Satya memasuki coffe shop. Kulirik dari ujung mataku sosoknya yang mengambil tempat tak jauh dari tempat dudukku. Ia lalu membuka tas laptopnya, tanpa memesan coffe dulu.
Aku mengernyitkan dahi saat Siska berjalan menuju kearah Satya, Siska membawa dua gelas cappuccino dan meletakkannya diatas meja. Ia lalu memandang kearahku dengan senyum lebar. “Alya, duduk disini aja.” Siska melambaikan tangannya kearahku.
Shit. Dengan penuh kegugupan, aku menuruti maunya Siska. Kuhampiri mereka, dan lalu menghempaskan tubuhku disamping Siska. Tak lupa kopi susu dan tas yang berisikan netbook kubawa.
“Masih sering disini, Al?” Tanya Satya ramah, sesuai kebiasaannya, saat Siska pamit ke kamar mandi.
Aku mengangguk.
“Kok gue nggak pernah lihat sebelumnya. Baru kali ini, ngelihat lu?”
“Baru eksis kemarin.”
“Kenapa?”
“Sibuk les bahasa.”
“Niat banget mo jadi Dubes.”
Aku tertawa. Satya benar, tentang cita-citaku yang ingin menjadi Dubes. Maka itu, aku memilih bidang sosial untuk jurusan kelas dan juga aku sibuk les bahasa Inggris dan Mandarin. Itu kulakukan, untuk bisa menguasai hal-hal yang dekat dengan pekerjaan Dubes. Kuliah nanti, aku berniat masuk jurusan Hubungan Internasional.
“Oh iya, Sat. Gimana bisa putus, sama si Dela?” Siska tiba-tiba muncul langsung membicarakan persoalan Satya dengan Dela.
“Protek banget tuh anak, malas gue. Nggak terima saja kesibukan gue selama ini.”
“Lu sih terlampau eksis.”
Satya tertawa. Ia melirik kearahku yang lebih memilih sibuk pada netbook ketimbang ikut dalam obrolannya dengan Siska.
***
Sejak mengikuti Satya yang berjalan ditengah hujan, aku kini tergila-gila yang namanya berjalan ditengah hujan. Lihat, biasanya kunikmati hujan ditempat teduh, tapi kini kunikmati hujan dengan berjalan ditengahnya, membiarkannya membasahi tubuhku.
Kulangkahkan kakiku memasuki pagar rumah, tak peduli dengan keterkejutan Pak Didin, Security rumahku yang melihatku basah kuyup.
“Gue pasti tak kan pernah lupa dengan cewek aneh seperti lu,”
Aku menoleh kebelakang. Kaget melihat kehadiran Satya yang duduk didekat pos security. Ia lalu berjalan menghampiriku.
“Sekarang, lu malah hobby hujan-hujanan.”
Aku tersenyum gugup, memandang diriku yang kuyup. “Ada apa, tumben.”
“Masa’ seorang sahabat nggak boleh ngunjungi sahabatnya.”
“Sahabat?”
Satya mengangguk mantap. “Yeah, sahabat.”
Aku mengigit bibirku, menahan sesak yang tiba-tiba hadir. Satya masih menganggapku sahabat.
“Maaf, gue baru sempat baca inbox dari lu.”
Air mataku luluh juga, benar-benar tak mampu menahan tangis. “Gue pikir, kita selamanya bakal seperti orang asing.”
Satya tertawa. Ia menghela napasnya secara perlahan-lahan. “Mungkin karena keterbatasan waktu antara lu dan gue membuat ini semua terjadi. Kita seperti asing. Tapi, percayalah kita tetap sahabat. Selamanya. Karena, tak pernah ada yang namanya bekas sahabat. Cuma kata pernah jadi sahabat. Kata pernah berarti pasti bisa terulang lagi. Seperti contohnya, lu pernah jatuh hati, lain waktu lu juga pasti merasakan jatuh hati lagi.”
“Lu sombong.” sungutku selesai mendengar penjelasan Satya dengan seksama.
“Lu yang sombong.” Balas Satya.
Aku tertawa. Terima kasih atas sore ini, atas hujan yang telah membasahi bumi, atas pelangi yang muncul di sore ini. Aku tersenyum bahagia saat memandang kearah pelangi yang kebetulan hadir.
“Gue suka hujan tapi tidak dengan petir dan derasnya,” Satya memandang kearahku dengan senyum jahilnya. “Gadis penyuka hujan, apakah kau berganti menyukai pelangi?”
Kupukul bahunya, sambil tersipu malu. Satya mengelak dan berlari menjauhiku, tak mau kalah, aku mengejarnya.
Selesai hujan, saat pelangi muncul, dan saat malam hendak hadir. Semua kembali.
Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi
(***thanks to insomnia dan ‘Sahabat Kecil’-Ipank.)
comment