siang hari memanasnya kosan

masih mengkhayal tentang kosan yang ada AC, aku tertawa ngakak bersama eka ‘geblek’–begitulah, ia suka di sapa…kita bermandi keringat, kipas angin tak mempan untuk membuat kita merasa pada embusan angin sepoi-sepoi….
Oh mam, adakah hal yang terbaik yang kulakukan padamu?
tiba-tiba ingat pada sms adik yang mengatakan ‘jangan beli kamera dulu, mama mo bayar utang soalnya’– oh tidak, aku sudah membelinya adikku, sebuah DSLR NIKON 5000 yang seketika membuat aku bangkrut sangat!!!! TT…. aku dan eka,, seketika terdiam. entah, apa yang ada di pikiran masing-masing. yang jelas, tidak menyesal dengan kamera yang kita beli tapi….’tidak berani untuk minta uang jajan bulan ini,’ padahal kita bokek sangat!!! aduuuh, aku menyesal sampai sekarang masih selalu mengharapkan semuanya dari mama, dan inilah akibatnya…seandainya, ada sesuatu yang pernah kulakukan membuat mama tersenyum, walau bagaimanapun keadaaan mama, aku berani untuk meminta hak ku (kejam sedikit tak apalah, suatu saat aku yang memberi padamu, mam…)

“backpacker solo sepertinya tak kan terwujud,” eka tampak menyesali. entah apa yang disesali. ” mana aku juga punya utang ma orang lagi!!!”
aku menyeka keringatku. “Tak jadi dong Ka, pindah kosan yang ber AC?”
eka tiba-tiba tertawa. ” panas siy nggak masalah, tapi keringat mengucur mulu’..” dia lalu kembali tanpak sedih. ” gue kangen nongkrong di starbuck”

si eka ‘geblek’ meskipun kampung dan noraknya tak pernah ketulungan, harus kuakui selera makannya cukup tinggi. starbuck, adalah minuman favoritenya, meskipun di starbuck dia nyari yang murah…

AKU? sepertinya berada seminggu dalam kosan cuma mengenal kampus untuk kuliah dan tidak ada kata jalan-jalan dalam kamusku, benar-benar membuat gila sangat!!!!

arrght, sang penyuka jalan-jalan tak jelas ini, seorang aku tepatnya, cuma bisa sibuk pada dunia online yang membuatnya tak begitu menikmati. tetap pada bayangan tempat-tempat yang ingin ia datangi, terlebih pada DSLR–milik bersama dengan Eka ‘geblek’, ia tak sabaran motret sana motret sini, memamerkan pada dunia bahwa gadis kecil nan norak sangat ‘nggak jauh bedalah sama eka’–aku mengakuinya, memiliki DSLR, walau masih tergolong standar DSLR–cukup murah….

so, berharap pada tangisan tak penting, adakah yang menutupi kemiskinanku saat ini?–setidaknya suka rela memberikan job yang cukup baik, mengisikan pulsa tiap bulanku, dan yang jelas membayar uang SKS ku? (ngarap kasihan…)

BackPacker

Buku ini yang mengenalkan gue tentang Backpacker

Kata itu, akrab di telinga gue setelah membaca Balada Si Roy(BSR), karangan Gola Gong, kurang lebih 4 tahun yang lalu, saat gue masih duduk di bangku SMA tingkat dua. BSR lahir jauh sebelum gue ada, booming ditahun 80-an, sedangkan gue hadir di awal 90-an. Meski begitu, problematika remaja yang ada dalam kisah ’Roy’ dan semangat yang dimiliki “Roy” masih sangat relevan, bahkan sedemikian dekatnya dengan apa yang dialami remaja saat ini. Itulah yang membuat gue cinta mati sama ’BSR’. BSR, sedikit banyaknya mempengaruhi hidup gue. Bayangan tentang avonturir ataupun backpacker di depan mata, impian untuk terjun dalam dunia backpacker, dan cita-cita untuk menikmati malam di sebuah emperan toko benar-benar nyata dalam diri gue yang dikenal sebagai anak rumahan. Yeah, waktu SMP gue terkurung dalam ’asrama suci’ (Mondok, maksudnya), dan waktu SMA, selalu banyak gue habisi di rumah berkutat dengan games di komputer atau Tayangan di TV. Maka itu kawan, saat SMA, tingkat dua, mulailah gue mencoba untuk berani keluar, tidak lagi mengenal rumah ataupun sekolah saja. Inilah baru pra awal bagi gue untuk menikmati dunia ini. Setiap Sabtu ke Gramedia, berjalan menembus hujan ke Pasar Raya, mengitari jalanan Permindo, dan menikmati gorengan di sekitar Permindo. Hah, masa yang indah bagi gue. Kembali pada bayangan gue akan backpacker, membuat gue bertekad untuk kuliah di pulau jawa, pulau yang tidak pernah gue kenal seumur hidup, tak pernah gue datangin. Bagi gue, inilah awal untuk gue menikmati keterasingan di kota yang jauh dari budaya yang gue kenal ataupun bahasanya, masih sangat asing di lidah gue. Backpacker, benar-benar di depan mata saat langkah gue sudah di Jakarta. Bagaimana gue sampai di jakarta, kapan-kapan gue ceritain. Yang pasti tak akan ada yang bisa mempercayai perjalanan gue ke jakarta terlebih dengan predikat manja dan anak rumahan yang gue sandang. Jakarta adalah langkah gue untuk mengenal dunia ini, kawan. Belajar sangat mengenai kehidupan ini. Gue memang belum ’benar-benar’ melakukan backpacker. Tapi, bagi gue inilah langkah awal gue untuk mengenal dunia backpacker. Berusaha berpetualang dulu di tengah kota, mencoba mengakrabkan diri pada debu jalanan, sumpek di dalam bus maupun kereta, nyasar entah kemana, nginap di tempat orang yang nggak gue kenal, ataupun menghabiskan waktu di depan Gramedia Matraman. Gue sangat menikmati ini, kawan… terlebih saat teman gue mengenalkan dunia malam lewat hal yang positip (bukan tempat dugem melainkan kafe atau warung-warung tenda). Backpacker, sebenarnya pernah gue cicipin. Bagaimana tidak, sendiri dengan tas Ransel ’Juventus’, gue naik bus AC biasa dari Jakarta-Padang, yang ternyata Bus tidak berhenti tepat di kota Padang tempat gue tinggal, tapi di Pariaman. Maka itu, gue diturunin di jalan. Meski gue bingung, tapi gue tetap memperlihatkan percaya diri gue, melihat sisa uang yang tinggal sepuluh ribu dan handphone yang mati total. Beruntung, ada bis melintas didepan gue, kerneknya berteriak ’padang, padang’. Dengan sigap, gue menyetop dan naik kedalam bis. Peduli dengan uang gue entah cukup apa tidak, yang penting gue nyampe di kota padang. (Ehm, Backpacker, bukan? Karena, bukankah backpacker sama artinya melakukan perjalanan dengan uang pas-pasan? Benar nggak sih?) Tapi yang jelas, dari cerita gue ini… Backpacker ingin gue jadi’in bagian dari hidup gue. Setidaknya, dengan predikat Bolang yang melekat dalam diri gue, backpacker akan terwujud. Yah, tunggu gue mampu mengumpulkan uang. Walau backpacker dikenal dengan uang yang pas-pasan, tetap aja harus punya uang. Ehm, sampai sekarang, gue sering kebobolan uang jajan, habis belum saatnya yang memaksa gue selalu meminjam uang ke teman. * Moga terwujud Backpacker ke Bali…huhaahahah, ngebayangin naik kereta, naik bis, naik kapal…Amin

Bus, kapal laut, Kereta, dan Pesawat….

Hahahahaha, alat transfortasi umum yang biasa digunain banyak orang. Percaya atau tidak, liburan Natal dan Tahun baru kemarin, lengkap sudah gue mencoba empat alat transfortasi

Maka itu, tepat tanggal  23  Desember (tanggal mulai libur di kalender akademik perkuliahan gue),  tepatnya pada pagi hari, gue mengemasi beberapa helai baju untuk di pack ke dalam Ransel Liverpool entah punya siapa, gue atau Eka…what everlah…

Tekad gue saat itu, mau tidak mau gue harus melakukan perjalanan ’pulkam’ ini dengan Bis. Bukan masalah ongkos pesawat yang mahal, tapi…ada sesuatu yang buat gue takut untuk naik pesawat. Bukan takut jatuh atau apa, tapi takut gue ngelakuin hal ‘itu’ lagi disaat pesawat hendak take off. Ya, walaupun perjalanan ini harus gue lakuin sendiri, karena teman yang berencana ‘pulkam’ ala ‘backpacker’ tiba-tiba membatalkan kepergiannya. Hah, sebenarnya tak masalah sendiri atau banyak. Soalnya memang, gue biasa sendiri (hikz…)

Gue memutuskan Naik mobil AC biasa, tidak Lorena yang terkenal dengan bus dan pelayanan yang cukup bagus, apalagi dia berhenti tepat di pusat kota. Keputusan gue lakuin dengan keterpaksaan, karena Jadwal Lorena yang empat jam lagi, gue berangkat jam 13.00 WIB, sedangkan jadwal Lorena 17.00 WIB. Daripada menunggu, gue naik bis AC biasa, itung-itung penghematan biaya transfortasi. Dan…bukankah niatnya  gue ’backpacker,’?

Oh…perjalanan yang sungguh nikmat, yang ternyata lamban dan pakai mutar-mutar ke terminal satu ke yang lainnya. Dari Rawamangun-Bekasi-Tangerang-Kalideres..

Pffh…jam 16.00 WIB, bus baru memasuki tol menuju Merak. Kalo seperti ini, mending gue naik Lorena. Gimana nggak bikin kesal, kursi yang sempit terlebih duduk disamping ibu-ibu yang nyinyirnya minta ampun, buat gue neg…Tapi, inilah perjalanan, kawan…

Pukul 19.00 WIB, bushyet dah….Naik kapal… angin yang kencang, pertanda akan Hujan, membuat gue ’nervous’, saat bus memasuki parkiran kapal. Enggan, gue langkahkan kaki menuju atas kapal..

Malam begini diatas kapal apa yang bisa di lihat dari keindahan di sekitar laut kecuali gemerlap pelabuhan. Tapi, cukup menghibur diri gue yang ’nervous’ karena gemerlap lampu pelabuhan cukup membuat keindahan.

Ada hal yang banyak gue pelajari tentang hidup ini saat melakukan dua hari perjalanan di dalam bus. Sesuatu yang bisa membuat gue bersyukur atas nikmat yang Allah kasih kepada gue. Mak yang disamping gue, satu keluarga yang naik di Lampung, ibu sombong diatas kapal, dan yang pasti perempuan yang dititipin ke gue. Allah…terima kasih atas perjalanan ini.

Tgl 27 Desember, saat sudah terlepas dari amanat pada perempuan itu (bahasa gue lebay—cukuplah gue dan beberapa orang yang tahu tentang gadis itu).

Karena dapat informasi yang meyakinkan dari Ultra, sepupu gue—dan ternyata salah besar, yang mengatakan kalau sekarang adalah ’tabuik’,perayaan penyambutan 10 Muharram, maka saat itu kami (gue, abang, ultra, dan filtra) memutuskan untuk ke Pariaman, tempat ’tabuik’ berlangsung. Kami memutuskan naik kereta api dari stasiun Tabing.

Maka siang itu, jam 12 lebih kurang, kita naik kereta api. Ini bukan kereta api yang pernah kunaiki di jakarta (KRL), ini kereta api yang masih lokomotif (bener apa tidaknya, itu informasi yang gue dapat dari teman)

Perjalanan sangat lambat, sedikit membosankan, terlebih diantara kami tidak bawa kamera untuk berkodak-kodak ria. Ada rasa penyesalan di hati abang.

”kalau tahu lambat seperti ini, mending naik motor,” dengus abang.

TGL 09 januari 2010,…lion Air, seat 36 E, dua bangku paling belakang.

Sial, subuh2 harus bangun, harus di Bandara. Ingin rasanya tidak ingin mengakhiri liburan ini, tapi… kuliah udah terlantar tiga hari. Ehm, gue kuatkan hati untuk menaiki tangga pesawat belakang. Entahlah, gue nggak tahu kenapa, takut duduk di urutan paling belakang. Terlebih tiba-tiba terbayang dengan apa yang pernah gue lakuin saat pesawat mau take off hanya gara-gara mendapatkan bangku di belakang (sudahlah, cukup gue yang tahu…hikz)

Finally, empat macam kendaraan gue cicipi saat mengisi liburan natal dan tahun baru. Sebenarnya lima. Yeah, travel yang mengatarkan gue liburan ke Muaro Bungo, Jambi…

Heheheheh…

*Keisengan menulis yang nggak tahu apa yang harus ditulis.

kau dan aku

antara aku dan dia, cukuplah kita yang tahu…tersimpan sebagai kenangan dan mencoba meleburkannya berharap pikiran akan menghapus kenangan itu,membuat ‘lupa’…tak kan pernah bibir terucap untuk mengungkapkannya pada orang lain, slain emang kita…

Kisah Kita Sesudah Hujan

Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya. Hatiku menegaskannya saat namanya diperbincangkan oleh cewek-cewek sekelasku, saat jam pelajaran kosong. Tentunya, kecuali aku yang tidak ikut dalam perbincangan cewek itu. Ketimbangan ngegosipin dirinya yang bagiku tidak penting, lebih baik aku mengisi LKS (lembaran kerja siswa) Sejarah, mata pelajaran yang lagi kosong.

Satya, begitulah namanya. Sekarang, nama itu selalu akrab di telingaku. Bukan karena aku memang mengenalnya, tapi karena selalu jadi perbincangan hampir  seluruh cewek-cewek di SMA senandung pagi.

Dia sedang naik daun. Bisik hatiku saat memandang dirinya yang sedang akrab bersama beberapa cewek didepan pagar sekolah, saat pulang sekolah. Yeah, dia tidak saja menjadi pembicaraan hangat cewek-cewek, tapi dia juga bunga yang selalu dikerubunin kumbang.

Bagaimana tidak naik daun, kalau sekarang dia mampu memperlihatkan eksistensi dirinya sebagai bunga bagi cewek-cewek. Dia tidak hanya tampan, tidak hanya ramah, tidak hanya kaya, dan tidak hanya berprestasi. Tapi, dia satu-satunya cowok yang selalu mendapat hukuman dari guru.

Satya Darma Nungraha. Itu nama lengkapnya. Salah satu cowok tampan di SMA Senandung Pagi, selalu ramah dengan seluruh penghuni SMA Senandung Pagi—termasuk penjaga sekolah, jago Matematika, ketua kelas, anggota inti paduan suara, kapten Futsal, dan basist band ‘Senandung’—band sekolah yang selalu berprestasi dalam kegiatan pensi. Dan, wajar dengan prestasi seperti itu, membuat ia adalah salah satu idola bagi cewek-cewek SMA Senandung Pagi. Cemerlangnya prestasi Satya, benar-benar terlihat saat tiga bulan terakhir ini. Berawal dari keramahannya dengan seluruh penghuni SMA Senandung Pagi, membuatnya dekat dengan kakak kelas. Kedekatannya dengan kakak kelas, membuatnya diminta mengisi acara promnight, menyanyi dengan diiringi gitar akustik. Berawal dari itulah, ia direkrut guru Kesenian untuk masuk dalam paduan suara sekolah, Lalu diminta seorang teman sebagai vokalis band namun ujung-ujungnya ia memilih sebagai basist, dan dari teman bandnya itu ia sering bermain Futsal. Kesenangannya pada Futsal, membuatnya gabung pada tim Futsal sekolah. Selang sebulan, ia langsung ditunjuk sebagai Kapten. Kalau masalah jago Matematika, siapapun yang sekelas dengannya mengakui hal itu. Karena, tiap ulangan Matematika, ia selalu mendapat nilai sempurna.

Prestasi yang gemilang itupula yang membuatnya menyandang ketua kelas saat duduk dikelas XI, sebulan yang lalu. Namun, meski berprestasi, kejelekan sikapnya tetap menjadi perbincangan. Cuma sebagai perbincangan yang membuat anak-anak ‘takjub’ bukan benci.

Kejelekan sikapnya yaitu, dia selalu terlambat datang sekolah yang membuat hukuman menjadi makanan sehari-harinya. Saat jam pelajaran, ia sering kedapatan tidur di kelas dan UKS atau sekedar ngobrol dengan ibu’ kantin.

Aku sangat mengenalnya, bukan?

Aku mengenalnya, bukan dari pengamatanku. Tapi karena dulu aku pernah jadi sahabatnya. Aku menjalin persahabatan dengannya di awal masuk SMA Senandung Pagi, saat semester satu, dan saat ia belum menjadi orang terkenal.

Dan kini, aku tak mengerti, kenapa, antara aku dan dia seperti orang asing. Perlahan tapi pasti, persahabatan kami renggang tanpa sebab yang jelas, kecuali persoalan masalah waktu yang membuat kami jarang bersama. Saat semester dua, dia mulai memetik buah keramahannya. Ia sibuk bergaul dengan orang-orang diluar kelas, tanpa mempedulikan aku lagi. Hanya sesekali, aku dan dia menghabiskan waktu di sebuah coffe shop sembari browsing dengan laptop kami masing-masing tanpa banyak bicara satu sama lain.

Saat kami tak sekelas lagi, kelas XI, kita benar-benar seperti orang asing. Ia sibuk dengan dunia ketenarannya dan keeksistensinya sebagai bintang sekolah. Sedangkan aku, sibuk pada dunia kekuperanku yang mengenal sekolah, rumah, toko buku, dan coffe shop.

Aku pernah mencoba untuk tidak sebagai orang asing bagi dirinya. Tapi, sepertinya kekakuan diantara kami yang malah tercipta. Itu membuatku terasa tidak nyaman, dan bertekad untuk benar-benar menjadi asing. Asing untuk dirinya dan aku.

Masih ingat dibenakku saat aku mencoba untuk tetap menganggapnya sahabat, walau memang ada ketakutan menghantuiku saat itu, entahlah apa yang membuatku takut untuk melakukan hal itu, tapi pada akhirnya, ketakutanku memang terbukti.

Aku menyapanya lewat inbox Facebook, karena memang inilah alternatif yang baik untuk menyapanya. Soalnya, aku sangat jarang berpapasan dengannya, toh kalau berpapasan ia sibuk meladenin orang-orang disekelilingnya, tak menyadari ada aku yang berpapasan dengannya.

Hai, gimana kabarnya?

Ehm, kelihatan makin banyak pengemar niy. Wah, selamat iah..

Oia, sombong apa sibuk banget niy, ampe lupa ama gue?

Bdw, masih ingat kan ama gue, kan?

Hah. Pesan itu kutulis dengan ketakutan dan kebingungan merangkai kata. Pada akhirnya, aku memilih kalimat itu, dengan harapan dia mau membalas inbox ku. Sayang, sudah hampir dua minggu dia tak membalas inboxku. Padahal, aku sering melihat dia online. Untuk menyapa dia saat online, aku tak punya keberanian.

***

Aku suka hujan. Tapi tidak dengan deras dan petirnya. Aku suka hujan yang gerimis atau hujan yang sedang. Saat hujan, hal yang sangat suka kulakukan adalah memandang kaca-kaca ruangan yang terkena percikan hujan. Embun dan airnya benar-benar membuat pemandangan yang mengasyikkan bagiku. Terlebih kalau aku berada disamping kaca ruangan itu, disebuah coffe shop sembari ditemani kopi susu, kesukaanku.

Makanya, saat hujan mulai membasahi tanah, aku langsung melangkahkan kaki ke sebuah coffe shop, ketimbang pulang kerumah.

Coffe shop langgananku dan Satya. Aku terpaksa kesana, karena coffeshop itu terletak tak jauh dari toko buku yang kukunjungi tadi. Padahal coffe shop itu sudah lama tak pernah kujejaki, sejak aku dan Satya menjadi asing.

Hah, aku tiba-tiba tertunduk. Bayangan antara aku dan Satya tiba-tiba hadir. Terlebih pada hujan seperti ini.

“Gue suka hujan, tapi tidak dengan deras dan petirnya,” ujarku saat itu, saat hujan turun dengan derasnya. “Karena, kalau deras, dia menghasilkan petir. Lagipula, pantulan airnya yang mengenai kaca ini, akan menghasilkan bunyi yang cukup keras, “jelasku sembari memegang dinding kaca disampingku.

Satya tersenyum tipis. “Pekerjaan yang sia-sia bagi gue, kalau memandang hujan turun dibalik kaca sambil sesekali memegang kaca yang dibasahi air hujan.”

“Dia meninggalkan kristal-kristal bening.” Tegasku. “Dan satu lagi, gue suka bau’ tanah saat hujan turun.”

“Yang ada tanah becek,”

“Bukan yang itunya. Tanah yang kering ketika dibasahi hujan, baunya itu benar-benar memberi kesejukan. Jadi, tak ada debu yang bertebaran.”

“Lu memang benar-benar aneh, “desis Satya sambil menyeruput cappuccino dihadapannya. “Gue tak pernah tahu bau tanah disirami hujan. Yang kutahu, kalau hujan, becek.”

Aku memalingkan mukaku, tak peduli dengan omongan Satya. Aku lebih memilih, menikmati  hujan diluar sana, lewat dinding kaca ruangan ini.

***

Hujan.

Aku tersenyum senang saat memandang rintik hujan yang turun, saat keluar dari kelas. Tak peduli dengan rutuan teman-teman yang ada disekelilingku yang menyesali hujan turun, aku malah menikmatinya dengan sukacita.

“Ngumpul dikantin yuk, sambil nunggu hujan reda.” ajak Siska teman sebangkuku.

Aku mengeleng kepala. Kupejamkan mataku sembari menghirup bau tanah halaman sekolah.

“Lihat,”

Suara gaduh di sekitarku, memaksaku membuka mata. Kuedarkan pandanganku kearah sumber yang membuat gaduh.

Satya?!

Aku kaget melihat Satya begitu santai berjalan menuju pagar sekolah, tanpa mempedulikan hujan yang membasahi seragamnya.

“Woi, Sat…stress, lu.” teriak seorang cowok yang berdiri tak jauh dari tempatku berdiri.

Satya tak peduli, ia malah memasuki Honda jazz yang berhenti didepan pagar sekolah.

“Parah tuh anak. Sejak putus sama Dela, stress.”

Dela?!

Kenapa aku tidak tahu, kalau Satya pacaran dengan Dela? Aku mengigit ujung bibirku, mungkinkah aku terlalu sibuk dengan kenangan antara diriku dan Satya, hingga aku mengabaikan pengetahuanku tentang kisah asmaranya.

Kulangkahkan kakiku begitu saja, melintasi hujan yang masih setia turun. Kuturuti, apa yang dilakukan Satya. bedanya, tak ada teriakan yang menghampiriku. Wajar mereka tak peduli apa yang kulakukan, karena memang tak penting untuk peduli’in hal sekecil ini dari seorang cupu seperti aku. Kecuali, kalau yang melakukannya, bintang sekolah.

Berjalan ditengah hujan, ternyata juga sangat mengasyikkan. Lebih dari memandangnya saja. Saat hujan menyatu dengan tubuh, membasahi seragam, saat itu aku merasakan nikmat yang luar biasa. Kuhela napas secara perlahan-lahan, ada kedinginan merasuki tubuh kurusku. Tapi sungguh, aku tak peduli dengan dingin ini, malah menikmatinya. Sepertinya, beban benar-benar lepas saat badan ini menyatu dengan air hujan. Lega dan terasa bebas.

***

Malam ini, aku janjian dengan Siska di coffe shop langgananku guna membicarakan topik yang bagus untuk tugas makalah Sosiologi.

Hampir setengah jam, aku menunggu Siska sembari menikmati kopi susu kesukaanku.

Sorry telat, macet soalnya.”

“Basi.” Selorohku sambil tersenyum tipis. “Ayo, udah ketemu topik yang cocok untuk tugas kita?”

Jiah, langsung ke topik. “dengus Siska. “ Gue pesen minum dulu,”

“Ya, udah pesen aja.”

Sepeninggalan Siska, kuhela napas secara perlahan-lahan, sembari memandang keluar jendela. Berharap, hujan tiba-tiba muncul. Sayang, langit tampak cerah dengan cahaya bulan.

Deg.

Aku tertunduk, saat Satya memasuki coffe shop. Kulirik dari ujung mataku sosoknya yang mengambil tempat tak jauh dari tempat dudukku. Ia lalu membuka tas laptopnya, tanpa memesan coffe dulu.

Aku mengernyitkan dahi saat Siska berjalan menuju kearah Satya, Siska membawa dua gelas cappuccino dan meletakkannya diatas meja. Ia lalu memandang kearahku dengan senyum lebar. “Alya, duduk disini aja.” Siska melambaikan tangannya kearahku.

Shit. Dengan penuh kegugupan, aku menuruti maunya Siska. Kuhampiri mereka, dan lalu menghempaskan tubuhku disamping Siska. Tak lupa kopi susu dan tas yang berisikan netbook kubawa.

“Masih sering disini, Al?” Tanya Satya ramah, sesuai kebiasaannya, saat Siska pamit ke kamar mandi.

Aku mengangguk.

“Kok gue nggak pernah lihat sebelumnya. Baru kali ini, ngelihat lu?”

“Baru eksis kemarin.”

“Kenapa?”

“Sibuk les bahasa.”

“Niat banget mo jadi Dubes.”

Aku tertawa. Satya benar, tentang cita-citaku yang ingin menjadi Dubes. Maka itu, aku memilih bidang sosial untuk jurusan kelas dan juga aku sibuk les bahasa Inggris dan Mandarin. Itu kulakukan, untuk bisa menguasai hal-hal yang dekat dengan pekerjaan Dubes. Kuliah nanti, aku berniat masuk jurusan Hubungan Internasional.

“Oh iya, Sat. Gimana bisa putus, sama si Dela?” Siska tiba-tiba muncul langsung membicarakan persoalan Satya dengan Dela.

Protek banget tuh anak, malas gue. Nggak terima saja kesibukan gue selama ini.”

“Lu sih terlampau eksis.”

Satya tertawa. Ia melirik kearahku yang lebih memilih sibuk pada netbook ketimbang ikut dalam obrolannya dengan Siska.

***

Sejak mengikuti Satya yang berjalan ditengah hujan, aku kini tergila-gila yang namanya berjalan ditengah hujan. Lihat, biasanya kunikmati hujan ditempat teduh, tapi kini kunikmati hujan dengan berjalan ditengahnya, membiarkannya membasahi tubuhku.

Kulangkahkan kakiku memasuki pagar rumah, tak peduli dengan keterkejutan Pak Didin, Security rumahku yang melihatku basah kuyup.

“Gue pasti tak kan pernah lupa dengan cewek aneh seperti lu,”

Aku menoleh kebelakang. Kaget melihat kehadiran Satya yang duduk didekat pos security. Ia lalu berjalan menghampiriku.

“Sekarang, lu malah hobby hujan-hujanan.”

Aku tersenyum gugup, memandang diriku yang kuyup. “Ada apa, tumben.”

“Masa’ seorang sahabat nggak boleh ngunjungi sahabatnya.”

“Sahabat?”

Satya mengangguk mantap. “Yeah, sahabat.”

Aku mengigit bibirku, menahan sesak yang tiba-tiba hadir. Satya masih menganggapku sahabat.

“Maaf, gue baru sempat baca inbox dari lu.”

Air mataku luluh juga, benar-benar tak mampu menahan tangis. “Gue pikir, kita selamanya bakal seperti orang asing.”

Satya tertawa. Ia menghela napasnya secara perlahan-lahan. “Mungkin karena keterbatasan waktu antara lu dan gue membuat ini semua terjadi. Kita seperti asing. Tapi, percayalah kita tetap sahabat. Selamanya. Karena, tak pernah ada yang namanya bekas sahabat. Cuma kata pernah jadi sahabat. Kata pernah berarti pasti bisa terulang lagi. Seperti contohnya, lu pernah jatuh hati, lain waktu lu juga pasti merasakan jatuh hati lagi.”

“Lu sombong.” sungutku selesai mendengar penjelasan Satya dengan seksama.

“Lu yang sombong.” Balas Satya.

Aku tertawa. Terima kasih atas sore ini, atas hujan yang telah membasahi bumi, atas pelangi yang muncul di sore ini. Aku tersenyum bahagia saat memandang kearah pelangi yang kebetulan hadir.

“Gue suka hujan tapi tidak dengan petir dan derasnya,” Satya memandang kearahku dengan senyum jahilnya. “Gadis penyuka hujan, apakah kau berganti menyukai pelangi?”

Kupukul bahunya, sambil tersipu malu. Satya mengelak dan berlari menjauhiku, tak mau kalah, aku mengejarnya.

Selesai hujan, saat pelangi muncul, dan saat malam hendak hadir. Semua kembali.

Baru saja berakhir

Hujan di sore ini

Menyisakan keajaiban

Kilauan indahnya pelangi

(***thanks to insomnia dan ‘Sahabat Kecil’-Ipank.)

ceritaku hari ini, cita-cita yang di mindset, mudah tercapai

Akan jadi apa kau lima tahun ke depan?

Aku yakin, pertanyaan diatas jarang yang bisa menjawabnya.Pasti ada kebingungan. Hah, itulah hidup yang terlalu mengikuti kata ‘Biarkan seperti air mengalir, kemana langkahku kan mengajak diriku’.

Hari ini, aku belajar tentang bagaimana orang mencapai kesuksesannya. Oh bukan, tepatnya bagaimana orang memikirkan apa yang ingin ia capai benar terjadi adanya.

Jum’at dini hari (masih dalam hari ini,bukan?), aku membaca novel karya Dewi lestari ‘Perahu kertas’. Cerita yang ringan yang disuguhi Dee pada novelnya kali ini, tapi memberi makna sendiri bagiku. Aku bukan membahas mengenai cerita cinta yang dialami Keenan dan Kugi, tapi lebih pada mimpi mereka masing-masing.

melihat sosok Kugi yang spontan, mampu memikirkan matang-matang kemana langkah masa depannya. Seperti : sejak kecil, ia telah memikirkan secara matang dipikirkannya kemana akan kuliah, masuk universitas dan jurusan apa.  Apa yang dipikirkannya, benar-benar terjadi.

seperti halnya, pembahasan Dosen saya tadi, pak Doni De Kaizer, mata pelajaran Profesional Image n Acting. Ups, meski saya datang terlambat, tapi ada hal yang bisa saya simpan dalam pembicaraannya. yaitu, tentang mindset diri. Intinya, sama seperti ‘apa yang anda pikirkan tentang diri anda, itulah anda’, ‘perkataan itu adalah do’a’–mungkin sederhananya itu.

mengambil contoh mengenai seorang walt disney yang tidak sempat melihat keberhasilan proyek yang ia buat. Saat itu, ada pertanyaan yang ditujukan kepada salah satu keluarganya mengenai ‘apa tanggapan walt, melihat proyeknya yang berhasil seandainya ia masih hidup?’, jawaban anggota keluarganya adalah walt disney telah melihat keberhasilan proyeknya itu,jauh sebelum menjadi nyata.

Jadi, apapun yang kita mindsetkan tentang cita-cita kita secara jelas, akan membuka peluang untuk kita menuju keberhasilan cita-cita itu. Banyak contohnya kok, yang bisa lihat selain walt disney itu sendiri. Dosen saya, Doni de kaizer, contohnya.  sejak kecil, ia telah akrab yang namanya main studio-studio-an hingga akhirnya saat ia besar, bener bekerja di studio-broadcasting.

Sayang, kebanyakan dari kita, mengikuti apa yang orang pikirkan. Maksudnya, orang pengin jadi ‘ini’, kita akan cepat bilang bahwa kita pengin ‘ini’, tanpa memikirkan apa yang kita inginkan dari ‘ini’ itu? itulah, kenapa lima tahun kedepan kita tidak tahu apa yang ingin kita bangun untuk diri kita, bahkan untuk dua hari kedepan kita mau apa, kita tidak tahu…

menmindset diri kita pada apa yang ingin kita capai menuju keberhasilan adalah bagaimana meyakinkan diri kita bahwa kita pasti berada pada apa yang kita pikirkan itu, nantinya. pada keyakinan hati, akan tumbuh yang namanya motivasi untuk mencapainya. Pencapaian itu berhasil, jika kita mengubah pola hidup kita sehari-hari, kebiasaan kita tepatnya.

Seperti contoh, orang sakit pasti pengin sembuh. Saat dia berusaha sembuh, bayangan akan sehat telah termindset dalam pikirannya. Untuk sehat, ia merubah pola kebiasaannya. Biasanya, ia tidak olah raga, makan yang tidak teratur, istirahat kurang, begadang, dan perokok berat. Ia ubah kebiasaannya menjadi berolah raga, makan dengan teratur, tidak perokok, tidak begadang dan istirahat cukup.Nah, dari kebiasaannya yang positif, ia tiba-tiba menjadi sehat. Bayangan sehat, benar menjadi kenyataan baginya.

Ehm.. kembali pada diri saya, saya cuma bisa mencoba merenung dan mencerna dari apa yang dosen saya katakan tentang walt disney, dari apa yang dilakukan Kugi ‘perahu kertas’, dan dari apa yang saya  tafsirkan sendiri.. Oh tidak, bukan merenung lebih tepatnya bertekad. Saya tak lagi mau menjadi air yang mengalir kemana akan bermuara. Tapi, saya lebih pada apa yang saya pikirkan untuk pencapaian saya yang ingin saya raih… sekarang, tinggal bagaimana saya mampu men mindsetkan diri saya pada hal2 yang positip biar hasilnya juga positip… Semangat Eda…

Beda bukan aneh

Menjadi beda bukanlah suatu keanehan, bukan pula suatu hal yang buruk apalagi jelek…menjadi Beda adalah suatu yang kamu yakinin dalam hidupmu. dan tak perlu untuk takut menjadi beda…

be your self n tak perlu menjadi orang lain

pribadi yang beda, sama artinya tak perlu menjadi orang lain, cukup jadi diri kita sendiri….tak perlu iri melihat kemampuan oranglain atau pribadi orang lain, tapi persiapkanlah pribadi kita dengan apa yang kita yakinin menurut ‘inilah diri kita’…

Aku, sebagai orang yang penuh dalam keminderan, cuma iri melihat orang lain, dan tersenyum dalam kegetiran, pagi ini merasa yakin pada diriku sendiri, bahwa ‘aku bangga menjadi diriku sendiri untuk kesekian kalinya’…meski iri melihat orang lain, bukan berarti aku mencoba menjadi wanna be beliau. malah aku berusaha menampakkan diriku bahwa dengan beda, aku bisa melihat hal yang unik, jujur, dan ‘inilah aku’…

so, dalam ke nerd-anku, dalam ketidakberanianku berbicara, dan dalam pribadi yang beda dari kebanyakan orang, aku menekankan beda ataupun lebih sering dekat dengan aneh bukanlah suatu yang harus dipikirkan,ditakutin, atau suatu yang salah….tapi, beda adalah pilihan layaknya hidup ini adalah pilihan. menjadi aneh adalah pilihan…sengaja gue miringin tuh photo….

ehm, bukti klo gue emang rada aneh–dan gue lebih suka disebut beda… tuh foto diri gue ketika menunggu bis depan FX, bianglala Grogol-Depok 143… gue minta di fotoin sembari lelah duduk…

Ehm, menunggu bis adalah makanan sehari2 gue, seperti halnya berakrab ria dengan debu, keliling toko buku sendirian, atau hanya sekedar jalan nggak nentu ditengah keramaian…

nggak tahu kenapa gue suka ngelakuin hal itu–walau teman gue bilang gue aneh, karena terkadang jam 10 malam keluyur pulang ke kosan sodara gue di lenteng agung, padahal jaraknya jauh banget dari tempat tinggal gue, gue tinggal di rawabelong.

bodoh amat, gue menikmati hal aneh ini. setidaknya akrab dengan kelelahan orang2 yang pulang kerja dan berusaha berteman dalam hati tentang ‘apa yang gue cari dijakarta ini?’…

So, gue nggak takut menjadi Nerd!!!

Yeah….bisa tidak, nekunin

Dari dulu, suka banget yang namanya nyorat-nyoret, ngetik nggak jelas, dan Pastinya pengin banget nekunin Blog…
Go-Blog–ngelihat keseriusan Raditya Dika yang sukses lewat blognya yang berisikan jurnal, catatan hariannya, buat gue selalu termotivasi ngenulisnya. melihat, Riska the schollarship 2007 PMBS-Metro Tv yang merasa nyaman nulis di jurnal Online–myspace,blogfriendster,wordpress. Dan melihat banyak lagi teman yang sukses dalam menekuni blognya, buat gue tertarik juga untuk mempunyai Blog/jurnal Online. sayang, gue males nekunin, entah kalau yang untuk satu ini, mampukah gue?–semoga.
blogspot,wordpress,friendster,notes di Fb–bukti dari hobi ngetik-ngetik gue nggak jelas tapi tak pernah gue tekunin…dan wordpress adalah blog gue yang kesekian kalinya….

berharap untuk menekuninya dan semangat EDA….

Kangen Bandung

hah, malam makin larut–udah mo pagi tepatnya, oh tidak dinihari lebih tepat lagi. mataku masih terjaga ditengah kesunyian, yang cuma ditemani suara keyboard laptop dan kipas angin–jadi takut, semua pada terlelap di alam mimpi. Huh, jadi rindu pada kebisingan kosan dulu, bersama si MITHA dan MOREN ‘MAK’, selalu terjaga saat begini—huh, dramatis tulisan gue.

Okeh, saat begini, tiba-tiba gue kangen yang namanya Bandung. ehm, nggak ada hubungannya siy dengan tulisan diatas dengan kota Bandung. cuma, ntah napa aja, keingat ama tuh kota…love bandung…

kangen banget sama kulinernya, nyeker di seputaran braga, ngacak-ngacak outlet dan distro, ngedengerin bahasa planet  orang bandung, ato sekedar menikmati romantisnya bukit bintang…oh tidak kangen melepas penat di alun-alun kota…

arrght, pengin ke bandung!!!!!

sayang, kuliah membuat langkah gue tak bisa disitu…terus lagi kantong gue kempis banget….

bandung, ntah napa kota itu tak bosan-bosannya buat gue bosan…meski sering kesannah–ya, walau cuma mendap dalam kamar kosannya bunda ‘Rahmi Fadilla’…

now, bertekad untuk sabtu ini ke Bandung, mumpung uang lagi banyak-banyaknya–kiriman akan datang disaat tanggal mendekati angka 5, sangat gue tunggu itu!!!

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.