

Hahahahaha, alat transfortasi umum yang biasa digunain banyak orang. Percaya atau tidak, liburan Natal dan Tahun baru kemarin, lengkap sudah gue mencoba empat alat transfortasi
Maka itu, tepat tanggal 23 Desember (tanggal mulai libur di kalender akademik perkuliahan gue), tepatnya pada pagi hari, gue mengemasi beberapa helai baju untuk di pack ke dalam Ransel Liverpool entah punya siapa, gue atau Eka…what everlah…
Tekad gue saat itu, mau tidak mau gue harus melakukan perjalanan ’pulkam’ ini dengan Bis. Bukan masalah ongkos pesawat yang mahal, tapi…ada sesuatu yang buat gue takut untuk naik pesawat. Bukan takut jatuh atau apa, tapi takut gue ngelakuin hal ‘itu’ lagi disaat pesawat hendak take off. Ya, walaupun perjalanan ini harus gue lakuin sendiri, karena teman yang berencana ‘pulkam’ ala ‘backpacker’ tiba-tiba membatalkan kepergiannya. Hah, sebenarnya tak masalah sendiri atau banyak. Soalnya memang, gue biasa sendiri (hikz…)
Gue memutuskan Naik mobil AC biasa, tidak Lorena yang terkenal dengan bus dan pelayanan yang cukup bagus, apalagi dia berhenti tepat di pusat kota. Keputusan gue lakuin dengan keterpaksaan, karena Jadwal Lorena yang empat jam lagi, gue berangkat jam 13.00 WIB, sedangkan jadwal Lorena 17.00 WIB. Daripada menunggu, gue naik bis AC biasa, itung-itung penghematan biaya transfortasi. Dan…bukankah niatnya gue ’backpacker,’?
Oh…perjalanan yang sungguh nikmat, yang ternyata lamban dan pakai mutar-mutar ke terminal satu ke yang lainnya. Dari Rawamangun-Bekasi-Tangerang-Kalideres..
Pffh…jam 16.00 WIB, bus baru memasuki tol menuju Merak. Kalo seperti ini, mending gue naik Lorena. Gimana nggak bikin kesal, kursi yang sempit terlebih duduk disamping ibu-ibu yang nyinyirnya minta ampun, buat gue neg…Tapi, inilah perjalanan, kawan…
Pukul 19.00 WIB, bushyet dah….Naik kapal… angin yang kencang, pertanda akan Hujan, membuat gue ’nervous’, saat bus memasuki parkiran kapal. Enggan, gue langkahkan kaki menuju atas kapal..
Malam begini diatas kapal apa yang bisa di lihat dari keindahan di sekitar laut kecuali gemerlap pelabuhan. Tapi, cukup menghibur diri gue yang ’nervous’ karena gemerlap lampu pelabuhan cukup membuat keindahan.
Ada hal yang banyak gue pelajari tentang hidup ini saat melakukan dua hari perjalanan di dalam bus. Sesuatu yang bisa membuat gue bersyukur atas nikmat yang Allah kasih kepada gue. Mak yang disamping gue, satu keluarga yang naik di Lampung, ibu sombong diatas kapal, dan yang pasti perempuan yang dititipin ke gue. Allah…terima kasih atas perjalanan ini.
Tgl 27 Desember, saat sudah terlepas dari amanat pada perempuan itu (bahasa gue lebay—cukuplah gue dan beberapa orang yang tahu tentang gadis itu).
Karena dapat informasi yang meyakinkan dari Ultra, sepupu gue—dan ternyata salah besar, yang mengatakan kalau sekarang adalah ’tabuik’,perayaan penyambutan 10 Muharram, maka saat itu kami (gue, abang, ultra, dan filtra) memutuskan untuk ke Pariaman, tempat ’tabuik’ berlangsung. Kami memutuskan naik kereta api dari stasiun Tabing.
Maka siang itu, jam 12 lebih kurang, kita naik kereta api. Ini bukan kereta api yang pernah kunaiki di jakarta (KRL), ini kereta api yang masih lokomotif (bener apa tidaknya, itu informasi yang gue dapat dari teman)
Perjalanan sangat lambat, sedikit membosankan, terlebih diantara kami tidak bawa kamera untuk berkodak-kodak ria. Ada rasa penyesalan di hati abang.
”kalau tahu lambat seperti ini, mending naik motor,” dengus abang.
TGL 09 januari 2010,…lion Air, seat 36 E, dua bangku paling belakang.
Sial, subuh2 harus bangun, harus di Bandara. Ingin rasanya tidak ingin mengakhiri liburan ini, tapi… kuliah udah terlantar tiga hari. Ehm, gue kuatkan hati untuk menaiki tangga pesawat belakang. Entahlah, gue nggak tahu kenapa, takut duduk di urutan paling belakang. Terlebih tiba-tiba terbayang dengan apa yang pernah gue lakuin saat pesawat mau take off hanya gara-gara mendapatkan bangku di belakang (sudahlah, cukup gue yang tahu…hikz)
Finally, empat macam kendaraan gue cicipi saat mengisi liburan natal dan tahun baru. Sebenarnya lima. Yeah, travel yang mengatarkan gue liburan ke Muaro Bungo, Jambi…
Heheheheh…
*Keisengan menulis yang nggak tahu apa yang harus ditulis.
